Rupiah Melemah Akibat Kebijakan Tiongkok

 

 

Teller menghitung uang dolar AS di Bank BJB, Depok, Jawa Barat, Kamis (28/11/2013). Bank Indonesia menyebut, pergerakan rupiah hari ini yang mencapai Rp13,541 merupakan reaksi dari keputusan pemerintah Tiongkok melakukan depresiasi dengan melebarkan rentang mata uangnya (currency band). Deputi Gubernur Senior, Mirza Adityaswara mengatakan, hal itu dilakukan oleh pemerintah Tiongkok untuk mengurangi pelarian modal, meningkatkan daya saing mata uang Yuan agar mendorong ekspor, dan melindungi investor dalam negeri.

 

 

“Saat ini mata uang Jepang, Korea,dan Eropa, yang merupakan pesaing dagang utama Tiongkok, sudah terdepresiasi cukup besar,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Selasa, 11 Agustus 2015.

 

Di sisi lain, kebijakan di Tiongkok tersebut berpengaruh terhadap seluruh mata uang regional termasuk rupiah. Hampir seluruh mata uang global melemah terhadap dolar AS.

 

“Pengaruh kebijakan di Tiongkok terhadap rupiah, tidak sebesar pengaruh yang terjadi pada dolar Singapura, won, dolar Taiwan, dan bath,” ucapnya.

 

Pihaknya meyakini bahwa hal ini akan bersifat sementara. Pasalnya BI melihat bahwa saat ini rupiah undervalued. Dari dalam negeri sendiri, rupiah sudah cukup kompetitif terhadap ekspor manufaktur, dan mampu mendorong turis masuk ke indonesia. Sementara itu, perkembangan  rupiah juga dipengaruhi oleh pembayaran utang dan deviden secara musiman, khususnya di triwulan II.

 

“Bank Indonesia akan selalu memonitor perkembangan rupiah dan terus-menerus di pasar untuk menjaga volatilitas rupiah,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *